INTRANET IPC
  Login 
Username:
Password:
      
 
 Daftar Berita

 Link Lain
Teori Kecoa

“Teman-teman semua, tolong baca “Teori Kecoa” ini. Sebuah pidato yang indah oleh Sundar Pichai, Pimpinan Global Google Chrome.  Terimakasih.”

- Lino -

Di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dan hinggap pada seorang wanita. Wanita itu mulai berteriak-teriak ketakutan.Dengan muka panik dan suara gemetar, ia mulai melompat-lompat sambil mengibaskan kedua tangannya untuk mengusir kecoa itu.

Reaksi wanita itu diikuti oleh beberapa orang temannya yang ikut panik. Wanita itu akhirnya berhasil mengibaskan kecoa itu. Namun, kemudian, kecoa itu hinggap di teman wanitanya di meja itu. Sekarang, giliran teman wanita itu yang jadi panik.

Pramusaji restoran kemudian menghampiri dan buru-buru menolongnya. Dalam usaha penangkapan kecoa, kecoa lalu hinggap di kemeja pramusaji.

Si pramusaji tetap berdiri dengan tegak, tenang dan terus mengamati perilaku kecoa di kemejanya. Ketika ia sudah merasa yakin, ia tangkap kecoa dengan tangannya dan dibuang keluar restoran.


Sambil menyeruput kopi dan mengamati adegan lucu itu, saya menangkap beberapa pelajaran dan berpikir, apakah si kecoa yang menentukan dan perlu dipersalahkan atas perilaku dan reaksi berlebihan dari orang-orang itu? Jika iya, mengapa si pramusaji tidak bereaksi dengan kepanikan yang sama? Ia menangani situasi dengan tepat, tanpa kekacauan apapun.

Hal itu tidak ditentukan oleh si kecoa, tetapi oleh ketidakmampuan orang-orang itu untuk menangani permasalahan yang diakibatkan kecoa, yang sangat mengusik ketenangan wanita-wanita itu.


Saya kemudian menyadari bahwa bukan teriakan ayah, bos atau istri saya yang mengusik ketenangan saya. Permasalahannya adalah ketidakmampuan saya untuk menangani permasalahan dari teriakan merekalah yang mengganggu saya.

Permasalahannya bukan pada kemacetan lalu lintas, tetapi pada ketidakmampuan untuk menangani permasalahan karena kemacetan lalu lintas. 

Lebih dari permasalahan itu sendiri, reaksi saya terhadap permasalahan itulah yang membuat kekacauan dalam hidup saya.

Dari teori ini, ada satu pelajaran kecil yang membukakan pikiran saya.

Saya menyadari bahwa tidak seharusnya saya bereaksi dalam hidup. Saya seharusnya merespon. Wanita itu bereaksi, sementara pramusaji itu merespon. Reaksi selalu bersifat instingtif sementara respons selalu dipikirkan dengan baik terlebih dahulu.

Cara yang baik untuk memahami .... HIDUP 

Orang yang BAHAGIA, bukanlah karena segala sesuatunya BENAR dalam hidupnya

Ia BAHAGIA karena SIKAPNYA terhadap segala sesuatu dalam Hidupnya BENAR



Tes Pdf
Copyright © IPC - 2013